jump to navigation

Celoteh Goya!… March 1, 2008

Posted by sanggar28 in Uneg2.
trackback

“Bubarkan saja negeri ini!… atau…”.

Permasalahan yang kita hadapi akan sangat rumit!…
Kita sudah melihat dan menyaksikan sendiri apa-apa yang sudah terjadi, paling tidak kita bisa mengevaluasi diri dari apa yang sudah terjadi untuk melangkah lagi ke depan.
Saya pernah mengutarakan uneg-uneg ini kepada beberapa teman saya, ya tentang KUDETA. Rencana awal, permasalahan kudeta ini akan saya angkat dalam naskah ini, namun dengan pertimbangan- pertimbangan yang lain saya memberanikan diri untuk menuliskan apa yang ada dalam benak saya tentang rencana kudeta negeri ini.
Satu pertanyaan yang mengacu saya, pertanyaan ini pula membuahkan satu karya “Instrument of Lifes” (mega-karya-ku), (dulu tahun 2000-an), yaitu ”Jika orang Indonesia (nusantara) ‘dulu’ mampu membuat bangunan candi yang begitu artistik dan bangunan arsitekturnya yang kokoh serta mengandung nilai-nilai filosofi yang tinggi tentang kehidupan ataupun kematian dan membuat berbagai macam bangunan candi lainnya dengan berbagai macam nilai yang berbeda pula serta masih banyak lagi yang lain tentang proses kreasi (dalam hal ini adalah orang-orang Indonesia ‘dulu’ adalah sebagai krator yang handal), namun kenapa pada masa sekarang (katakanlah era modern atau era kemerdekaan atau era dimana nusantara itu jatuh) tidak mampu untuk berbuat demikian (kreator / kreasi / daya cipta imajinasi / lainnya yang pantas terutama dalam pengolahan pola pikir seseorang / masyarakat), tetapi yang terjadi justru sebaliknya (cenderung konsumtif, plagiat, otak atik gathuk dll.), kenapa orang dimasa sekarang (yang katanya MODERN dengan pola daya pikir yang lebih maju) tidak mampu menciptakan / membuat sesuatu yang bermanfaat atau paling tidak mempunyai nilai-nilai untuk membangun sebuah masyarakat yang madani, yang semua rakyatnya bisa merasakan kesejahtraan, ketentraman dll. Justru masyarakat (orang-orang) sekarang berkecenderungan untuk makan saudaranya sendiri (antusias dalam membangun individu masing-masing tanpa menghiarukan bahwa dirinya berada di tengah-tengah masyarakat yang luas, dan juga tetap masih ada perbedaan antara kaya dan miskin), apa yang salah dari ini semua, apa yang menjadi permasalahan, apa yang menjadi faktor, apa yang menjadi sesuatu itu menjadi sesuatu yang sekarang sudah terjadi, kekhawatiran yang paling mengkhawatirkan (terutama untuk kelangsungan bangsa ini) yaitu, bagaimana nasib anak cucu kita nanti jika kita tidak mampu merubah sesuatu yang janggal (yang kita berantakkan) dalam diri kita? Jika kita tetap bersifat pasif, wajar saja jika beberapa tahun (bisa 10, 100, 1000 dst.) bangsa ini akan hancur, dan wajar saja orang-orang malaysia menjadi sombong, pantas saja masyarakat di luar Indonesia (daya pikirnya) lebih maju dibandingkan dengan masyarakat kita yang cenderung ‘ewuh pekewuh’ dengan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek dan kakek moyang kita dahulu.”.
Dan lalu temanku hanya tersenyum sambil seolah meng’iya’kan apa yang aku pertanyakan. Lalu aku pun mulai berbicara lagi, kali ini aku sedikit emosi “Lihatlah pemerintahan sekarang, yang katanya akan memakmurkan rakyatnya malahan sama seperi yang dulu, perbedaannya hanya orang-orang yang duduk di kursi itu berbeda, tapi otak (daya dan pola pikir) mereka sama dengan yang terdahulu (yang sudah lengser), perhatikan pergerakan mahasiswa dimasa reformasi!… kesalahan meraka yaitu, mereka tidak mempersiapkan pemimpin yang handal yang benar-benar mereka pilih, dan tidak mempersiapkan segala hukum baru yang mereka pertentangkan untuk menjadi sesuatu peraturan yang memang benar-benar adil dan jujur.”, aku mengambil segelas kopi yan memeng sudah mulai dingin. Aku juga pernah menantang seorang teman dari purwokerto, dia anak hukum, dan kebetulan dia suka dengan musik underground (yang katanya cenderung menentang pemerintah dengan lirik-liriknya), namanya Reza, aku bertanya padanya “Rez…kamu orang hukum, kamu anak band, lirik-lirikmu tajam, dan kamu sudah tahu permasalahan yang ada di negeri kita ini, tentang chaos, tentang ketidak adilan, tentang semua hal kemanusiaan… nah jika kamu sudah tahu tentang itu semua aku ingin menantang kamu, buat peraturan-peraturan (hukum) baru (perbaikan) dari hukum / peraturan yang kamu tentang yang menurut kamu itu tidak adil dan sebagainya dan sebagainya, setelah kamu buat, kamu tawarkan kepada dewan!…”, Reza menjawab dengan agak emosi sedikit. “nggak berani unk…”, jawabnya. “kenapa?… takut?… atau belum mampu?…”. dia hanya diam saja. Dalam hatiku hanya bisa mengucap “OMONG KOSONG DENGAN SEMUA LIRIK-LIRIKMU!…”. Sama dengan kekecewaanku terhadap anak-anak PUNK, yang katanya dan juga dalam liriknya menyerukan tentang “REVOLUSI”, BULL SHIT dengan REVOLUSI-mu!…, bagaimana tidak?… cobalah tengok ke dalam mereka dan lihat pola pikir mereka yang sudah terbentuk oleh minuman alkohol sebagai gaya hidup mereka atau mungkin gele’ yang juga sebagai gaya hidup dan dengan dandanan yang norak dsb. Lalu lihat perbincangan mereka adakah yang mendiskusikan tentang ‘REVOLUSI’ perbincangan yang menuju ke arah praktis untuk menuju realisasi dari apa yang mereka sebut dan koar-koarkan tentang “REVOLUSI”, dan yang menggelikan lagi mereka sering menyanyikan lagu dengan judul “REVOLUSI SAMPAI MATI”, mati saja… apakah selamanya kita akan meneriakkan revolusi, lalu kapan era dimana kata revolusi itu tidak terdengar lagi (sudah pasca revolusi), aku tunggu pergerakan kalian tapi bukan dengan alkohol yang berbicara, pikirkan tentang bagaimana mewujudkan revolusi!…”.
Acchhh…. revolusi, mungkin bagiku akan sama saja dengan yang sudah sudah, pasti orang-orang yang duduk di kursi dewan pun dari orang yang sama dari satu pemikiran dari pola pikir dan daya pikir yang sama dari disiplin yang sama dan semuanya sama kecuali bentuk fisik mereka, jadi sama saja bukan?!….
Aku lebih setuju dengan KUDETA, ya kudeta adalah jalan satu-satunya (menurut saya) untuk merubah semua sistem yang sudah berjalan. Coba sendainya aku punya uang yang banyak (kaya raya) aku akan membayar orang-orang yang ahli dibidangnya untuk merumuskan / membuat formula / membuat program baru untuk negeri ini dalam mencapai tujuan mensejahterakan rakyatnya, aku tidak peduli nanti ketika ternyata nama Indonesia hasus diganti dengan nama yang lain, jika itu memang tujuan sebuah negara adalah untuk mensejahterakan seisi perut anak bangsa.
Akan aku suruh orang-orang ahli itu merumuskan formula dengan jangka waktu beberapa tahun, dan aku pun menugaskan beberapa orang untuk mengorganisir beberapa oranganisasi yang belum atau sudah terbentuk untuk mendukung pergerakan nantinya (tentu saja dari orang-orang yang ‘pola pikirnya’ sudah tidak terkontaminasi oleh racun-racun kerakusan dan keserakahan).
Dan setelah beberapa tahun perumusan formula jadi, menginjak ke langkah berikutnya yaitu mencari pemimpin bangsa yang benar-benar ia bisa mempimpin di dan orang lain beserta beberapa orang untuk nantinya akan didudukan dalam kementrian, dewan daerah sampai ke pelosok-pelosok.
Sambil menunggu momen yang tepat….
Blar!…
Kudeta terjadi, pergantian secara cepat dilakukan, hukum lama diganti dengan hukum baru, orang lama diganti orang baru, dan apa-apa yang lama dan terkontaminasi dipensiunkan tanpa ada hak untuk turut capur dalam permasalahan ini, dan kalau perlu (jika orangnya keterlaluan) langsung dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku (hukum yang baru) kalau saya lebih setuju kalau dihukum pancung, biar generasi tersebut hilang.
Dan masyarakat baru pun tercipta…
Ach TAI sekarang hanya baru khayalanku saja … hahahahahahahahaa…

……
……
……
……
……
……
……
……
……
……
……
……

Hai ketemu lagi… sudah tau apa yang ada dipikiranku?…
Hahahahah… lagi-lagi aku memikirkan tentang hal yang sama, padahal aku sendiri tidak menerima gaji ketika aku memikirkan hal tersebut, seperti para anggota DPR, MPR, MA, dsb. Mereka sangat menghargai pekerjaan mereka dengan menaikkan tarif ketika mereka disuruh untuk berfikir lebih keras lagi, yang mengherankan mereka juga minta penambahan-penambahan fasilitas hahahahah…. lha wong kerja belum tampak hasilnya kok minta jatah… wong edhan!…
O iya… masalah judul diatas tentang kudeta. Kenapa aku pun memilih pilihan tersebut, coba bayangkan ketika sebuah negara tercipta sebuah tatanan yang adil dan makmur, tapi bukan hanya dalam angan-angan belaka… ya dalam dunia nyata. Dan aku yakin Indonesia mampu jika orang-orang yang ada didalamnya diganti semua, tapi sebelumnya orang yang akan mengganti ini haruslah digodok dan benar-benar orang yang harus bisa dipercaya untuk memegang suatu amanah (maaf bukannya jabatan?!…) wah kalau jabatan kelihatannya bagi mereka itu menjadi suatu beban yang harus dihargai dengan uang atau materi lain, tapi kalau amanah penghargaannya ya… tanggung jawab yang ia percayakan, bukan uang ataupun materi lainnya.
Kembali, jika aku orang yang sangat kaya raya, walaupun tidak ada dukungan dari pihak manapun aku akan membayar beberapa orang ahli untuk merumuskan perihal-perihal apa saja yang memang harus diperbaiki terutama untuk hukum dan peraturan tertulisnya. Kemudian memilih pemimpin yang benar benar sesuai dengan kriteria (masih tercatat). Ketika sudah siap semua, waktunya untuk melobi ataupun menghancurkan orang-orang yang menghalangi untuk bisa bergabung. Setelah beberapa elemen bergabung, aku membayar orang untuk mengorganisir dalam pembentukan wadah-wadah kreatifitas, wadah-wadah yang nantinya akan menjadi aset yang berharga untuk negeri. Setelah semua sudah terbentuk dan matang, barulah mengganti semua apa yang ada dengan paksa eh bukan dengan cara mengkudeta. Ya… aku akan mengganti orang-orang yang bejat, aku akan mengganti orang-orang yang tidak konsekwen dalam membangun negeri, aku akan mengganti orang-orang yang bermuka dua, aku akan mengganti orang-orang yang bukan ahli dibidangya, aku akan suruh investor-investor asing untuk menanamkan modal pada jumlah tertentu sehingga aset negara secara tidak terjual dan tetap menjaganya. Setelah semuanya beres, dalam jangka waktu satu tahun, adalah target untuk perbaikan sektor ekonomi, dengan dibarengi perbaikan struktur dibidang lainnya. Karena Indonesia harus segera dibebaskan dari hutang-hutang luar negeri. Bila perlu untuk membayar hutang luar negeri yang begitu banyak, aku tarik iuran setiap penduduk sekian rupiah, sedangkan separuhnya dari aku sendiri, nah…. masalah hutang luar negeri beres, tapi jangan lupa untuk memutuskan hubungan dengan bank dunia (IMF), sebab sangat fatal sekali jika mempunyai hutang hahahaha…
Berlahan namun pasti, pembebasan-pembebasan atas semuanya. Pendidikan mulai diperbaiki dan ditingkatkan, pertanian dan peternakan mulai ditingkatkan, perkebunan juga ditingkatkan, perekonomian dikembangkan dengan kemandirian dalam berusaha dengan target menguasai sektor-sektor yang ada di luar negeri.
Ach… tapi itu semua tergantung dari individu-individu yang mempunyai komitmen tinggi dalam memperjuangkan segala hak untuk hidup, atau kalau tidak tulisan ini pun hanya menjadi sebuah wawasan yang tidak akan terrealisasi (huh… menyedihkan…).
Wis ach… kuesel tanan… mumet dab!…

Uunk Jenggot.

Comments»

No comments yet — be the first.